Monday, 12 March 2012

PERUBAHAN HAKIKI DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Oleh: Ust.Syamsuddin Ramadhan


Lintasan sejarah manusia yang amat panjang tidak saja memampangkan kejadian dan peristiwa penting, lebih dari itu, sejarah juga menyediakan bermacam-macam pengalaman dan pelajaran yang tak ternilai harganya.  Dari sejarah, kita bisa belajar fluktuasi masyarakat, faktor-faktor yang menyebabkan bangkit dan mundurnya sebuah masyarakat, dan bagaimana sebuah masyarakat mentransformasikan dirinya menuju keadaan yang lebih baik.  Dengan mempelajari sejarah, baik sejarah yang cemerlang maupun gelap, kita bisa memformulasikan peradaban masa depan, jalan untuk mewujudkannya, dan persiapan-persiapan yang diperlukan untuk mengkonstruksi peradaban itu.



Gelombang perubahan yang melanda beberapa negara Timur Tengah, mulai Tunisia, Mesir, Libya, dan lain-lain, setidaknya telah menyadarkan kepada kita bahwasanya; (1) tidak ada satu pun rejim yang tidak bisa ditumbangkan, sekuat apapun rejim itu; (2) umat adalah pemilik sejati kekuasaan dan sandaran hakiki sebuah kekuasaan. Sekuat apapun dukungan asing terhadap sebuah rejim, bukanlah sesuatu yang mustahil untuk menjatuhkan rejim itu, jika umat telah bergerak untuk mengambil alih kekuasaan; (3) negara-negara kafir barat selalu memantau dan berusaha membajak perubahan yang terjadi di negeri-negeri Islam, khususnya Timur Tengah, lalu mengarahkan perubahan tersebut sesuai dengan keinginan mereka.  Negara barat –khususnya Amerika Serikat— berusaha mencegah terjadinya perubahan sistemik dan lahirnya penguasa-penguasa anti barat.  Barat harus memastikan bahwa demokrasi dan hukum-hukum barat tidak mengalami perubahan.  Barat juga harus memastikan bahwa penguasa-penguasa baru yang berkuasa tetap berkiblat kepada barat dan menjaga kepentingan-kepentingan barat di negeri itu; (4) perubahan yang tidak dipimpin oleh gerakan Islam yang kuat dan tidak melalui persiapan yang baik, selalu berhasil diserobot oleh Amerika Serikat dan antek-anteknya.  Akibatnya, perubahan tersebut gagal mentransformasikan umat menuju ke arah perubahan hakiki, yakni terbentuknya kekuasaan Islam.   


Belajar dari “revolusi gagal” di negeri-negeri Timur Tengah, kita bisa memformulasikan persiapan-persiapan untuk menciptakan “revolusi sejati” yang mampu mengantarkan umat meraih kebangkitan hakiki.  Adapun persiapan-persiapan tersebut harus dimulai dengan memahami hakekat perubahan menurut pandangan Islam, metode perjuangan, dan persiapan untuk mewujudkan perubahan hakiki tersebut; yakni perubahan yang memiliki kapasitas untuk menegakkan Khilafah Islamiyyah ‘Ala Minhaj al-Nubuwwah.



Hakekat Perubahan Hakiki

Perubahan hakiki adalah transformasi yang mampu mengantarkan masyarakat menuju kebangkitan hakiki.  Sebuah perubahan tidaklah disebut perubahan hakiki, jika perubahan itu tidak menjadikan masyarakat berubah menuju keadaan yang lebih baik dibandingkan keadaan sebelumnya.   Sedangkan factor yang menentukan apakah suatu masyarakat mengalami kebangkitan atau tidak, adalah peradaban yang ditegakkan masyarakat tersebut. Dr. Mohammad Al-Qashshas di dalam salah satu masterpiecenya, Kitab Usus al-Nahdlah al-Raasyidah (Pondasi Kebangkitan), menyatakan, “Faktor yang menentukan bangkit dan mundurnya suatu masyarakat adalah peradaban yang dimiliki masyarakat tersebut.  Jika peradabannya tinggi, niscaya masyarakat di situ akan bangkit.  Jika peradabannya mundur, mereka tidak akan pernah mengetahui kebangkitan.   Ketika kita membicarakan peradaban yang ada di tengah-tengah masyarakat, berarti kita sedang membicarakan jalan hidup (way of life), pola perilaku, dan pola hubungan yang menjadikan sebuah masyarakat memiliki kekhasan”. [Dr. Ahmad Al-Qashshash, Usus al-Nahdlah al-Raasyidah, hal.) Jika sebuah masyarakat mampu mentransformasikan dirinya menuju peradaban yang lebih baik dan tinggi; masyarakat tersebut dikatakan bangkit.  Sebaliknya, jika sebuah masyarakat mengalami stagnasi dan gagal mentransformasikan dirinya menuju peradaban yang baik dan lebih tinggi,  masyarakat itu dikatakan tidak bangkit.          Adapun peradaban, ia dibentuk oleh pemikiran tertentu yang kompleks dan majemuk.  Pemikiran tersebut, ada kalanya berupa pemikiran yang rendah dan ada kalanya pemikiran tinggi yang memancarkan system kehidupan (ideology).   Bangsa Romawi, Persia,  dan China Kuno merupakan bangsa-bangsa besar yang memiliki peradaban tinggi.  Peradaban mereka yang maju, tentu saja lahir dari pemikiran tertentu yang mereka adopsi dan terapkan.  Negara-negara besar, seperti Inggris, Amerika, Jepang, dan China, mengalami kebangkitan, karena mengadopsi dan menerapkan pemikiran tertentu.   China dan Rusia (di era keemasan) mengalami kemajuan dikarenakan mengadopsi sosialisme-komunisme.  Amerika Serikat, Inggris, Jepang, dan Perancis, mengalami kebangkitan karena mereka menerapkan kapitalisme.  Umat Islam, di masa Kekhilafahan Islam, memiliki peradaban tinggi, bahkan tampil sebagai pemimpin dunia dengan menguasa hampir 2/3 dunia, dikarenakan mengadopsi dan menerapkan Islam.


Hanya saja, sekedar mengalami transformasi menuju peradaban yang lebih tinggi, tidak serta merta perubahan tersebut disebut perubahan hakiki.  Yang menentukan hakiki atau tidaknya sebuah perubahan adalah benar atau tidaknya peradaban yang ditegakkan.  Jika peradaban yang ditegakkan di tengah-tengah masyarakat, benar (shahih), maka masyarakat tersebut dikatakan telah mengalami perubahan hakiki.  Sebaliknya, jika peradabannya bathil, maka masyarakat tersebut tidak dikatakan mengalami kebangkitan hakiki.  Adapun factor yang menentukan benar tidaknya sebuah peradaban adalah ‘aqidah (pemikiran mendasar) yang menyangga peradaban tersebut.  Jika ‘aqidahnya benar dan lurus, maka peradaban tersebut dikatakan peradaban shahih.  Jika aqidahnya bathil, peradaban tersebut dikatakan peradaban bathil. 

            
Berdasarkan penelitian yang jernih dan mendalam, satu-satunya ideologi shahih yang layak dijadikan sebagai system dunia, adalah Islam.  Ideologi kapitalis dan sosialis terbukti gagal mengantarkan manusia menuju kebangkitan hakiki.  Kapitalisme dan sosialisme nyata-nyata telah menimbulkan kerusakan hampir di seluruh dimensi kehidupan.  Akibat penerapan dua ideology ini, manusia terpuruk ke dalam kenestapaan global.  Sosialisme-komunisme menciptakan peradaban yang memandang manusia tak ubahnya dengan mesin produksi dan benda mati.  Ideologi ini juga menggiring manusia untuk menolak eksistensi Tuhan, menggerus kefithrahan manusia, serta menjerumuskan manusia pada pandangan yang aneh dan sesat. Sedangkan kapitalisme, kehebatannya dalam menciptakan kehancuran manusia tak kalah hebatnya dibandingkan sosialisme.  Kapitalisme telah melanggengkan eksploitasi manusia atas manusia lain.  Menurut kapitalisme, segelintir manusia dibenarkan hidup sejahtera di atas penderitaan mayoritas manusia.  Agama diberangus, dan ditempatkan hanya pada ranah privat belaka. Ideologi ini juga mengabsahkan kebebasan (liberalism), di seluruh dimensi kehidupan yang mengakibatkan munculnya dekadensi moral, seks bebas, penguasaan asset umum oleh segelintir orang, peminggiran peran agama dalam negara dan masyarakat, dan dampak destruktif lainnya.


Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwasanya, perubahan sejati adalah transformasi menuju peradaban yang tegak di atas ideologi shahih yang memuaskan akal, sejalan dengan fithrah manusia, dan mampu menciptakan kemakmuran holistik.  Kapitalisme dan sosialisme, tidak saja bertentangan dengan ‘aqidah dan syariah Islamiyyah, lebih dari itu, keduanya juga tidak mampu menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan holistic.  Kemajuan negara-negara kapitalis barat, sesungguhnya adalah kemajuan semu.  Pasalnya, kemajuan mereka disertai dengan penindasan dunia ketiga, kesenjangan pendapatan, serta tercerabutnya nilai-nilai kemanusiaan.  Adapun Islam, ia adalah ideologi shahih yang bersumber dari Al-Khaliq al-Mudabbir, memuaskan akal, sesuai dengan fithrah manusia, dan terbukti telah menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan holistic.  Dengan demikian, perubahan hakiki adalah transformasi menuju tegaknya peradaban Islam (al-hadlarah al-Islaamiyyah).


Peradaban Islam hanya bisa diwujudkan dengan cara menerapkan Islam secara kaaffahdan menyebarkan risalah Islam ke seluruh penjuru dunia.  Penerapan Islam secara menyeluruh dan penyebaran risalah Islam ke seluruh penjuru dunia hanya bisa diselenggarakan melalui penegakkan kembali kekuasaan Islam yang digariskan baginda Nabi saw, yakni Khilafah Islamiyyah.   Sedangkan penegakkan Khilafah tidak mungkin diwujudkan tanpa adanya dukungan umat.  Pasalnya, umat adalah pemilik sejati kekuasaan. Umat tidak akan mungkin memberikan dukungan, sebelum mereka menyadari kerusakan peradaban sekarang (kapitalisme), serta wajibnya menegakkan syariat Islam secara menyeluruh dalam koridor Khilafah Islamiyyah.  Penyadaran dan pengorganisasian umat untuk penegakkan Khilafah Islamiyyah, tidak mungkin dilakukan seorang diri.  Di tengah-tengah umat harus ada gerakan Islam yang tidak pernah lelah mendidik, mengembalikan kesadaran, mengorganisir, dan memimpin mereka untuk mendirikan Khilafah Islamiyyah.  Gerakan inilah yang akan mengorganisir, memimpin, dan mengantarkan umat menuju perubahan hakiki.

video

Peran Hizbut Tahrir Dalam Menciptakan Perubahan Hakiki

Sesungguhnya, umat tidak akan bergerak, jika tidak digerakkan.  Umat juga tidak akan mengetahui apa yang seharusnya ia tuntut, jika tidak diberi tahu apa yang seharusnya mereka tuntut.  Umat juga tidak akan menyadari kerusakan masyarakatnya, kecuali disadarkan atas kerusakan masyarakatnya.  Bahkan, umat tidak akan “berani” menuntut perubahan, kecuali ada orang yang mampu memimpin dan mengorganisir mereka.  Dalam setiap keadaan, umat senantiasa membutuhkan kelompok sadar yang secara terus menerus membimbing dan memimpin mereka.  Sayangnya, kelompok-kelompok yang ada di tengah-tengah masyarakat jumlahnya tidaklah sedikit.  Masing-masing memiliki tujuan dan target yang berbeda-beda, dan saling berlomba untuk merebut kepercayaan umat.   Tidak jarang dalam perebutan itu, terjadi gesekan, perseteruan, hingga aktivitas saling menafikan antar kelompok-kelompok tersebut.


Dalam keadaan seperti itu, umat hanya membutuhkan sebuah kelompok ikhlash yang mampu menjaga kelurusan, kejernihan, dan kesucian pemikiran-pemikiran Islam, serta mampu mengungkap kerusakan yang terjadi di tengah-tengah masyarakatnya.  Kelompok seperti inilah yang akan selalu membimbing umat untuk menyadari kerusakan-kerusakan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, sekaligus menyadari realitas ideal (sesungguhnya) yang wajib mereka tegakkan.  Kedua factor inilah, yakni sadar terhadap kerusakan masyarakat dan realitas ideal yang harus ditegakkan-- yang akan mendorong masyarakat untuk melakukan perubahan.


Pada hakekatnya umat tidak membutuhkan kelompok yang berhaluan sekuler, kelompok sosialis, kelompok pragmatis pendukung pemerintahan kufur, serta kelompok-kelompok nyinyir yang tidak memiliki konsep dan garis perjuangan yang jelas.   Sebab, kelompok-kelompok seperti inilah yang sejatinya melanggengkan system kufur dan menghambat terjadinya perubahan hakiki.   Atas dasar itu, umat harus dijauhkan dari kelompok-kelompok tersebut.  Tidak cukup hanya itu saja, eksistensi kelompok-kelompok ini harus diguncang sedemikian rupa, hingga umat meninggalkan mereka.   Umat hanya membutuhkan kelompok yang benar-benar tegak di atas ‘aqidah Islamiyyah, memperjuangkan tegaknya syariah dan Khilafah, memiliki konsep yang jelas, baik thariqah menegakkan Khilafah dan serta system Islam yang akan diterapkan untuk mengatur seluruh urusan masyarakat.  Kelompok seperti inilah yang dibutuhkan umat.  Bahkan, umat wajib menghimpun dirinya di sekitar kelompok ini, mendukung, dan membantunya untuk merealisasikan tujuan-tujuannya.


Peran strategis Hizbut Tahrir adalah menyadarkan umat bahwasanya perubahan hakiki hanya bisa diwujudkan dengan menerapkan Islam secara kaaffah melalui penegakkan Daulah Khilafah Islamiyyah.  Kapitalisme dan system demokrasi-sekuler adalah biang kerok kehancuran manusia.  Keadaan umat tidak akan pernah berubah menuju ke arah yang lebih baik, selama mereka masih menerapkan kapitalisme, demokrasi, dan sekulerisme. Umat tidak akan pernah bangkit secara hakiki, jika tuntutannya hanya sekedar ganti rejim.  Kebangkitan hakiki hanya bisa diwujudkan dengan mengganti ideologi rusak (kapitalisme) dan menerapkan ideologi shahih, yakni Islam.


Peran strategis Hizbut Tahrir lain adalah menjauhkan umat dari penguasa sekuler, serta kelompok-kelompok nyinyir, dengan cara mengguncang kedudukan mereka, memutuskan hubungan dengan mereka, dan menyingkap kejahatan, kedzaliman, dan persekongkolan mereka dengan negara-negara kafir.  Hizbut Tahrir, dalam konteks ini, tidak akan pernah berkompromi dengan penguasa-penguasa sekuler, bermanis muka kepada mereka, lebih-lebih lagi bermusyarakah dalam pemerintahan mereka.  Hizbut Tahrir akan terus menjaga dan membentengi umat dari kejahatan mereka, dengan cara membekali umat dengan pemahaman Islam yang jernih dan mendalam.


Adapun dalam konteks menegakkan kembali Daulah Islamiyyah, Hizbut Tahrir memulainya dengan cara meletakkan mafahimmaqayis, dan qana’at Islam di tengah-tengah masyarakat, dan menyerang mafahim, maqayis, dan qana’ag kufur.  Pasalnya, mafahim, maqayis, dan qana’at Islam adalah benih bagi berdirinya Daulah Khilafah Islamiyyah.  Tanpa mafaahim, maqayis, dan qana’at Islamiy, Daulah Islamiyyah tidak mungkin terbentuk.  Selain itu, mafahimmaqayis, dan qana’at adalah sarana sejati untuk merebut kepercayaan dan kepemimpinan umat, sekaligus, senjata ampuh untuk memutuskan hubungan rakyat dengan penguasa.  Adapun dari sisi thariqah al-wushul ilaa Daulah Islamiyyah, Hizbut Tahrir menempuh thariqah yang digariskan Nabi saw, yakni thalabun nushrah.   Thalabun nushrah adalah meminta dukungan kepada ahlul quwwah agar mereka memberikan dukungan kepada Hizbut Tahrir untuk menegakkan Daulah Khilafah Islamiyyah, yang atas ijinNya tidak akan lama lagi. 


Perubahan Timur Tengah dan Masa Depan Tegaknya Khilafah Islamiyyah


Perubahan di beberapa Negara Timur Tengah telah gagal mengantarkan umat menuju perubahan hakiki.  Banyak faktor yang menyebabkan perubahan di sana tidak memiliki kapasitas untuk menegakkan Khilafah Islamiyyah.  Pertanyaannya adalah bagaimana masa depan tegaknya Khilafah Islamiyyah di Timur Tengah? Benarkah, umat masih mencintai kapitalisme dan system demokrasi-sekuler, dan tidak menghendaki tegaknya Khilafah Islamiyyah?


Jawaban atas pertanyaan di atas adalah sebagai berikut. Pertama, sesungguhnya, umat pasti akan kembali kepada Islam dan Khilafah Islamiyyah.  Pasalnya, kapitalisme dan system demokrasi-sekuler memiliki cacat bawaan yang tidak mungkin diobati.  Cacat bawaan ini menyebabkan setiap negara yang mengadopsi kapitalisme dan system demokrasi-sekuler selalu jatuh dalam kegagalan.  Kegagalan dalam seluruh aspek kehidupan, mulai dari ekonomi, politik, hingga sosial-budaya, akan terus terjadi secara berulang-ulang.  Kegagalan-kegagalan ini akan menjadikan umat belajar, dan akhirnya memahami bahwa selama mereka masih menerapkan kapitalisme dan demokrasi-sekuler, mereka akan tertimpa problem dan malapetaka.  Kesadaran inilah yang akan menyulut keinginan untuk meninggalkan kapitalisme dan demokrasi-sekuler, dan beralih menuju system Islam.  Negara kapitalis barat, benar-benar memahami masalah ini.  Oleh karena itu, satu-satunya jalan untuk melanggengkan kapitalisme dan system demokrasi-sekuler adalah; (1) memperkuat posisi penguasa-penguasa antek untuk menghambat terjadinya revolusi sejati; (2) mencegah terjadinya perubahan sistemik dengan cara mengalihkan arah perubahan dan mengarahkan terjadinya vacuum of power.


Apabila penguasa-penguasa antek barat tidak bisa dipertahankan akibat kuatnya tuntutan perubahan, barat tidak segan-segan mengorbankan penguasa-penguasa itu, lalu berpura-pura mendukung gerakan perubahan itu, untuk kemudian mengalihkan tuntutan rakyat, dari ganti system ke hanya sekedar ganti rejim.  Mesir misalnya, ketika Mubarak didesak mundur dari tampuk kekuasaan, Amerika menyatakan bahwa Mubarak adalah mitra sejati barat.  Namun, begitu desakan rakyat semakin kuat, dan kekuatan militer bergabung dengan para demonstran, maka, barat segera mengubah sikapnya.  Melalui agen-agennya, Amerika berusaha mengendalikan arah perubahan agar sekedar ganti rejim, dan mencegah terbentuknya Khilafah Islamiyyah.  Padahal, mayoritas masyarakat Mesir, menghendaki syariah dan Khilafah.  Kedua, umat Islam, dalam keadaan selemah apapun, tetap mencintai Islam dan mendukung kelompok ikhlash yang benar-benar hendak memperjuangkan tegaknya Islam. Seiring dengan meningkatkan pemahaman dan kesadarannya,  umat bisa memilih dan memilah, mana kelompok yang lurus dan ikhlash, dan mana kelompok nyinyir dan opportunis.Ketiga, di tengah-tengah umat Islam, akan selalu ada kelompok yang tegak di atas kebenaran, yang selalu membimbing dan memimpin umat agar berjalan di atas jalan yang lurus dan benar. Kelompok inilah yang kelak akan menghimpun dan memimpin umat untuk melakukan aktivitas perubahan hakiki, yakni mengganti system kufur dengan system Islam.  Belajar dari kegagalan perubahan di Timur Tengah,  salah satu faktor yang menyebabkan perubahan di sana gagal, adalah perubahan tersebut tidak dipimpin oleh gerakan Islam yang benar-benar ingin menegakkan Khilafah Islamiyyah.  Akibatnya, ketika rejim berkuasa berhasil dijatuhkan, umat tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.  Dalam keadaan seperti ini, Negara barat, melalui antek-anteknya, segera masuk ke tengah-tengah umat, dan memimpin mereka untuk dijerumuskan pada perubahan semu.   Oleh karena itu, adanya kelompok kuat yang mampu memimpin umat untuk menegakkan kembali Khilafah Islamiyyah, adalah sebuah keniscayaan agar arah perubahan tetap focus dan kendali perubahan benar-benar ada di tangan kaum Muslim, bukan di tangan antek-antek barat.


Perubahan di Timur Tengah, untuk sementara masih belum memiliki kapasitas untuk mengantarkan umat meraih perubahan hakiki.  Namun, itu bukan berarti bahwa umat masih mencintai system kapitalis-sekuler.  Hati umat masih berpihak kepada syariah dan Khilafah, hanya saja, perubahan di sana belum dipimpin oleh kelompok sadar yang benar-benar siap menegakkan Khilafah Islamiyyah.  Insya Allah, tidak akan lama lagi, umat akan menuntut terjadinya “revolusi sejati”, karena sekedar ganti rejim bukanlah solusi sejati.  Solusi sejati adalah ketika di sana ada perubahan system, dari system kapitalis-sekuler menuju system Islam.  Revolusi itu akan memiliki kapasitas untuk menegakkan Khilafah Islamiyyah, karena umat telah rela dipimpin oleh gerakan Islam yang pro terhadap syariah dan Khilafah. 


Wallahu al-Musta’an Wa Huwa Waliyu al-Taufiq


 























@Padepokan One Brother

1 comment:

  1. Hari ini kaum Muslimin berada dalam situasi di mana aturan-aturan kafir sedang diterapkan. Maka realitas tanah-tanah Muslim saat ini adalah sebagaimana Rasulullah Saw. di Makkah sebelum Negara Islam didirikan di Madinah. Oleh karena itu, dalam rangka bekerja untuk pendirian Negara Islam, kita perlu mengikuti contoh yang terbangun di dalam Sirah. Dalam memeriksa periode Mekkah, hingga pendirian Negara Islam di Madinah, kita melihat bahwa RasulAllah Saw. melalui beberapa tahap spesifik dan jelas dan mengerjakan beberapa aksi spesifik dalam tahap-tahap itu

    ReplyDelete